 |
| Ilustrasi Kampus |
A.
Kerangka Konseptual
Antropologi
secara terminologis (bahasa) berasal dari kata anthropos = manusia, dan logos = ilmu. Oleh karenanya,
Antropologi merupakan suatu ilmu yang jangkauan pembahasannya membicarakan seputar
manusia seperti perilaku (behavior),
kebudayaan (culture), agama/kepercayaan (religion),
bentuk fisik masyarakat (Suku dan ras), bahasa dan aspek-aspek materian maupun
non-material lainnya dari manusia
Antropologi mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus
makhluk sosial. Secara garis
besar Antropologi bisa dibagi menjadi dua macam. Yang pertama ialah antropologi fisik, yang obyek kajiannya berupa manusia sebagai organisme
biologis. Sedangkan kedua ialah antropologi budaya, yang obyek kajiannya
terkait manusia sebagai makhluk sosial (ber)budaya.
Sederhananya, Antropologi merupakan ilmu yang
mempelajari tentang manusia. Para ahli antropologi mendefisinikan antropologi
sebagai berikut:
- William
A.Haviland (seorang Antropolog Amerika) Antropologi adalah studi tentang umat
manusia, berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan
perilakunya serta untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman
manusia.
- David
Hunter. Antropologi adalah ilmu yang lahir dari keingintahuan yang tidak
terbatas tentang umat manusia.
- Koentjaraningrat
(Bapak Antropolog Indonesia) Antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat
manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat
sertakebudayaan yang dihasilkan.
Dari ke-tiga
definisi di atas penulis menyimpulkan bahwa Antropologi merupakan ilmu atau
bidang studi yang mempelajari tentang segala sesuatu apa-apa yang berkaitan
dengan manusia baik berupa fisik maupun budaya sehingga dapat disimpulkan
kecendrungan manusia sebagai makhluk sosial.
Sementara
itu, kampus sebagai lingkungan akademis terdiri dari berbagai “warna
kehidupan”, ada yang berperan sebagai dosen, mahasiswa, karyawan/pegawai.
Peran yang paling penting dan merupakan ciri utama universitas (kampus) adalah
dosen dan mahasiswa yang merepresentasikan adanya hubungan saling bertukar
informasi atau pengetahuan.
Sebagaimana
mahasiswa secara umum, para dosen pun sejatinya memiliki karakteristik yang
jika dipandang dengan kacamata antropologi memiliki beragam karakter dalam menjalankan
perannya itu.
Mahasiswa
sendiri, sebagai kelompok atau golongan yang berjuang untuk mencapai tujuan
masing-masing, sangat menarik menjadi pembahasan, selain adanya proses mencari
(search) dan ‘menjadi’ (become), ada pula peran-perannya yang sangat penting
dan potensial bagi sekelompok orang. Jika pembicaraan mengenai mahasiswa
dirangkum dalam sebuah forum, maka diskusi akan berlangsung panjang, mulai dari
definisi hingga konsep tujuan.
Pembahasan
mengenai materi antropologi kampus, perlu menyesuaikan kondisi manusia dimana
kacamata antropologi ini digunakan untuk melihat dan mengenali seluk-beluk
manusia. Dalam hal ini, dalam lingkungan kampus, dimana manusia melakukan
kegiatan pertukaran informasi dan kegiatan sosial akademis guna tercapainya
tujuan-tujuan yang menjadi motivasi masing-masing.
B. Kampus dan Norma Kampus
Pengertian
Kampus
Berasal dari bahasa Latin: campus yang
berarti "lapangan luas", "tegal".
Pengertian modern, kampus berarti sebuah
kompleks atau daerah tertutup yang merupakan kumpulan gedung-gedung universitas
atau perguruan tinggi. Bisa pula berarti sebuah cabang daripada universitas
sendiri.
Kampus juga terkadang menyediakan asrama
untuk mahasiswa. Di Inggris dan banyak negara jajahannya seperti Amerika
Serikat dan lain-lain, sebuah kampus terdiri dari universitas atau sekolah
dengan asrama atau tempat kos atau pondok para mahasiswa. Di sana sebuah gedung
sekolah berada di kompleks yang sama dengan gedung penginapan.
Di
Indonesia hal-hal seperti ini kadang-kadang ada pula, terutama di tempat
akademi militer, dan sekarang mulai dilakukan pula oleh beberapa kampus besar
seperti UI, Undip, dan IAIN, dengan mendirikan asrama di sekitar kampus akan
membuat mahasiswa lebih banyak mengabiskan waktunya untuk studi dan mudah dikontrol oleh pihak kampus.
Kampus merupakan tempat belajar-mengajar
berlangsungnya misi dan fungsi perguruan tinggi. Dalam rangka menjaga kelancaran
fungsi-fungsi tersebut, upaya sebagai lembaga pendidikan tinggi yang
mengembangkan tugas Tri Dharma Perguruan Tinggi, memerlukan penyatuan waktu
kegiatan beserta ketentuan-ketentuan di dalam kampus.
Norma
Akademik (Etika Kampus)
Norma akademik
adalah ketentuan, peraturan dan tata nilai yang harus ditaati oleh seluruh mahasiswa kampus berkaitan
dengan aktivitas akademik.
Tujuan
norma akademik: agar para mahasiswa mempunyai gambaran yang jelas tentang
hal-hal yang perlu dan/seharusnya dilakukan dalam menghadapi kemungkinan
timbulnya permasalahan baik masalah-masalah akademik maupun masalah-masalah non
akademik.
Masalah
akademik: masalah yang berkaitan langsung dengan kegiatan kurikuler. Masalah non
akademik: masalah yang terkait dengan kegiatan non kurikuler.
Pelanggaran: perilaku atau perbuatan, ucapan, tulisan yang
bertentangan dengan norma dan etika kampus.
Etika
kampus: ketentuan atau peraturan yang mengatur perilaku/atau tata krama yang
harus dilaksanakan oleh mahasiswa kampus. Etika kampus meliputi 2 hal penting
yaitu ketertiban dan tata krama.
C. Pengertian Antropologi Kampus
Antropologi
kampus pada dasarnya berusaha menjelaskan bagaimana kehidupan (manusia) dalam lingkungan kampus, khususnya mahasiswa sebagai
pemeran utama.
Antropologi
sebenarnya kata yang sudah tidak asing lagi di telinga kita apabila disematkan
dengan kata Antropologi budaya, antropologi politik, antropologi agama dan lain
sebagainya. Namun begitu asing ketika kata antropologi itu
sendiri disandingkan dengan kata kampus. Karena memang belum ada suatu cabang yang
secara terstruktur dan pembahasan yang tuntas mengenai antropologi kampus.
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia sebagai
organisasi gerakan mahasiswa menganggap bahwa kader-kadernya seharusnya dapat
memahami bahkan membaca kampus mereka sendiri. Hal ini penting sebagai pijakan
mereka berproses di bangku perkuliahan.
Kampus merupakan tempat belajar mengajar,
berlangsungnya misi dan fungsi perguruan tinggi, tempat berinteraksi antara
dosen dengan mahasiswa, mahasiswa dengan mahasiswa. Kampus boleh dikatakan
miniatur negara karena di dalamnya ada politik dan kebudayaan
yang bermacam-macam.
Kampus
sebagai lingkungan akademis terdiri dari berbagai warna kehidupan, ada yang
berperan sebagai dosen, mahasiswa, pegawai, yang menjadi peran paling penting
dan ciri utama sebuah kampus adalah dosen dan mahasiswa yang mempresentasikan
adanya hubungan saling bertukar informasi atau pengetahuan.
Kampus
adalah ruang kaderisasi bangsa. Kampus
memiliki pemerintahan dan rakyat, oleh karenanya kita akan menemukan berbagai
kelompok yang akan bertaruh dalam memperebutkan eksistensi di kampus.
Benturan ideologi antar gerakan mahasiswa pun akan terjadi di kampus, inilah
yang menjadikan kehidupan di kampus menjadi sangat kondusif.
Kampus
memiliki pemerintahan BEM atau SEMA, PEMIRA
sebagai momentum mengakselerasikan perubahan-perubahan yang dianggap penting
oleh gerakan mahasiswa dengan segala karakteristik perjuangannya.
PMII
sebagai organisasi ekstra kampus membina dan mendistribusikan kader-kadernya
untuk aktif dalam lembaga-lembaga kampus, agar kader PMII bisa menempa dan
mengembangkan kemampuan yang dimilikinya. Dan disinilah PMII akan semakin
meneguhkan perjuangannya dalam menyalurkan aspirasi mahasiswa di segala
lapisan baik akademisi, organisatoris hingga preman kampus.
D. Tipologi Mahasiswa
Sebagai
kader PMII kita harus mengetahui beberapa tipologi mahasiswa, setiap mahasiswa
memiliki gaya atau tipe yang berbeda, kita sebagai kader PMII harus mampu
menempatkan diri kita pada golongan yang seperti apa.
Ada kampus
pasti ada sivitas akademika, baik rektor, pembantu rektor, dekan, dosen,
pegawai, dan mahasiswa. Semua sivitas
akademika tersebut satu sama lainnya saling terkait. Mahasiswa sebagai komponen utama (karena jumlahnya lebih banyak ketimbang yang
lainnya) sangat penting diperhatikan bagi denyut nadi kampus. Mahasiswa datang
dari berbagai penjuru daerah tentu mempunyai latar belakang dan karakter yang
berbeda-beda.
Sebagai
mahasiswa, mayoritas anggota baru PMII perlu memahami berbagai jenis
tipologi mahasiswa dan kira-kira ingin menampatkan dirinya dalam tipe seperti
apa.
Pengklasifikasian
atas tipologi mahasiswa ini tidak bersifat paten karena setiap
diri kita bisa membuat tipologi sesuai dengan yang kita lihat dan rasakan. Anda
sendiri bisa memegang dua katagori atau tiga bahkan empat sekaligus dari
tipologi yang ada. Bahkan mungkin masih membuka munculnya jenis tipologi
lainnya. Yang penting semoga Anda bisa berguna bagi diri Anda sendiri dan bagi
orang lain dalam lingkungan kehidupan keluarga, organisasi dan masyarakat.
Adapun
beberapa tipologi mahasiswa dirangkum sebagai berikut:
Mahasiswa
Pemimpin
Tipikal
mahasiswa seperti ini selalu terlihat mencolok dan aktif dibandingkan mahasiswa
lainnya. Hidupnya di perkuliahan sangat bervariatif (diisi dengan berbagai
kegiatan) dan ia tidak hanya belajar dari kuliah semata, namun juga belajar
dari lingkungan.
Ia akan
aktif di organisasi, baik intra maupun ektra kampus. Biasanya (tapi tidak
mengikat) tipe mahasiswa seperti ini
tidak memiliki keinginan yang besar untuk lulus terlalu cepat, karena ia mencari pengalaman sebanyak-banyaknya untuk menjadi pemimpin
di masa depan. Cita-citanya, biasanya ingin menjadi pemimpin perusahaan, lurah,
bupati, DPR, menteri, bahkan presiden.
Mahasiswa
Pemikir
Golongan
mahasiswa yang memanfaatkan status kemahasiswaannya sebagai waktu untuk menimba
ilmu. Tipikal
mahasiswa jenis ini selalu berpikir dan terus berpikir. Hobinya membaca buku,
diskusi dan menulis. Terkadang orang jenis ini –karena terus belajar- tanpa
menghiraukan sekitarnya, agar bisa mendapatkan jawaban atas apa yang
dipikirkannya. Biasanya tipe mahasiswa seperti ini jika telah lulus ingin
jadi ilmuwan, peneliti, dosen atau akademisi.
Mahasiswa Aktivis
Mahasiswa
yang ikut dan aktif
pada organisasi, baik
intra maupun ekstra (namun lebih cenderung pada organisasi ekstra). Banyak
anggapan negatif yang akhirnya dikonsumsi sendiri oleh para aktivis bahwa,
dengan aktif di organisasi, maka kuliah dapat berantakan, sementara organisasi
dianggap sebagai tempat membuang waktu semata. Sayangnya, pendapat ini datang
dari orang-orang yang kurang mengecap dan memahami manfaat berorganisasi.
Mahasiswa Apatis
Sikap
acuh tak acuh, tak mau tahu tentang kondisi sosial dan
politik di kampus.
Mahasiswa Humoris
Mahasiswa
yang memanfaatkan waktunya sebagai masa liburan, mendapatkan kebebasan dari perhatian orang tua.
Mahasiswa
Study Oriented
Tipikal
mahasiswa jenis ini selalu rajin masuk kuliah dan melaksanakan tugas-tugas
akademik. Mahasiswa jenis ini tidak mau tahu dengan apa yang terjadi di
kampus. Pokoknya yang penting mendapatkan nilai bagus dan cepat lulus.
Mahasiswa
Hedonis
Tipe
mahasiswa seperti ini tiada banyak berpikir, tidak mau aktif di organisasi. Ia
selalu menjalani kehidupan dengan hedonis, glamour, dan happy-happy.
Kalau ke kampus sering memakai pakaian yang norak, memakai mobil, dan nongkrong
di mall, kafe, dan tempat hiburan lainnya.
Mahasiswa
Agamis
Tipikal
mahasiswa seperti ini kemana-mana selalu membawa al-Qur’an, berpakaian ala
orang Arab, tampil terkesan Islami, menjaga jarak terhadap lain jenis yang
tidak muhrim.
Mahasiswa
K3 (Kampus, Kos dan Kampung)
Tipikal
mahasiswa seperti ini kesibukanya hanya K3, yaitu kampus, kos dan kampung. Kalau tiba jam kuliah ya berangkat kuliah, kalau selesai
pulang kos, atau kalau ada waktu cukup, pulang kampung.
Mahasiswa
Santai Semaunya Sendiri
Tipe
mahasiswa seperti ini tiada banyak berpikir, selalu menjalani kehidupan apa
adanya. Enjoy aja! Biasanya tipikal mahasiswa seperti ini aktif di bidang seni
dan olahraga. Dia tidak terlalu memikirkan kuliah, karena yang penting dalam hidupnya
adalah santai. Biasanya mahasiswa seperti ini lama sekali lulusnya, karena
nilainya juga santai.
E. PMII dan Rekayasa Kampus
Dunia perpolitikan mahasiswa yang tak
pernah lepas dari wilayah kampus membuat PMII mau atau tidak mau akan terlibat
dalam pusaran rebutan kekuasaan kampus. Meskipun diakui ataupun tidak,
mahasiswa pada umunya cenderung bersikap apolitis dengan berbagai isu kebijakan
birokrat kampus dan para pejabat mahasiswa, namun tetap saja mahasiswa
berpolitik dalam arti yang lebih luas. Dikarenakan
politik memiliki lingkup yang menyeluruh dalam setiap aspek kehidupan,
tergantung sudut pandang masing-masing.
PMII
sebagai organisasi ekstra kampus membina dan mendistribusikan kader-kadernya
untuk aktif dalam lembaga-lembaga kampus, bahkan akan mendorong kadaer-kader
terbaik memimpin lembaga-lembaga tersebut. Keberadaan lembaga-lembaga tersebut,
bagi PMII adalah sebagai ruang distribusi kader
karena di lembaga tersebut kader PMII bisa menempa dan mengembangkan kemampuan
yang dimilikinya agar lebih maju dan profesional.
PMII
memandang lembaga intra kampus sangat strategis sebagai wahana kaderisasi. Pada
umumnya, ada beberapa jenis lembaga kampus yang memiliki otoritas tertentu
dalam mengayomi kampus dan mahasiswa, yaitu Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM),
Himpunan Mahasiswa Fakultas/Jurusan (HMF/J) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).
Lembaga-lembaga tersebut bermain dalam wilayah internal kampus dan
kepengurusannya berisikan mahasiswa yang tercatat masih aktif program studinya.
Secara
umum, ke tiga jenis lembaga ini memiliki andil penting dalam rekayasa kampus.
Mau kemana dan bagaimana nantinya kampus akan dikelola, lembaga
inilah yang akan mewujudkannya dalam tataran kerja nyata di lapangan.
Dengan
menguasai lembaga intra kampus, PMII akan semakin meneguhkan perjuangannya
dalam menyalurkan aspirasi mahasiswa di segala lapisan baik akademisi,
organisatoris hingga preman kampus. Perlu diingat bahwa Perguruan Tinggi merupakan
salah satu sarana yang dibuat dalam meningkatkan pembangunan negara secara
umum, oleh karena itu tak heran bahwa banyak perubahan besar yang diawali dari
gerakan lembaga kemahasiswaan ini.
Adanya lapangan bola, internet, pustaka
hingga tempat parkir merupakan fasilitas yang diberikan karena adanya sebuah
permintaan yang dalam hal ini diajukan oleh mahasiswa secara umum dan
disampaikan kepada pihak birokrat melalui lembgaga kemahasiswaan jalur
komunikasi antara mahasiswa dan birokrat kampus. Ketika birokrat kampus serta
lembaga-lembaga ini tidak mampu berkoordinasi dalam mengaspirasikan harapan
civitas kampus umum, maka akan timbul saling ketidakpercayaan, stagnansi hingga
kemerosotan akreditasi kampus dalam tataran akademis, fasilitas dan budaya.
Kampus dan
mahasiswa berada. Kampus bisa menjadi tempat bagi mahasiswa untuk mengembangkan
aktualisasi dan apresiasinya sesuai dengan kebutuhannya. Hal ini merupakan sisi
positif yang dimiliki mahasiswa. Kesempatan seperti ini
tentu tidak dimiliki mereka yang tidak sempat belajar di kampus.
Sebagai bagian dari elemen mahasiswa, PMII memandang sangat vital
keberadaan kampus, tidak hanya semata-mata untuk tempat pembelajaran, tetapi
juga sebagai wahana untuk menempa dan mengembangkan bakat potensi yang dimiliki
para anggotanya.
F. Mahasiswa dan Dunia Politik
Mahasiswa merupakan bagian dari
kelompok bermasyarakat/sosial yang secara khusus mendapat kesempatan mengikuti
proses pendidikan formal di bangku kuliah perguruan tinggi. Potensi bekal
pengetahuan yang didapat lewat bangku kuliah atau pendidikan tinggi ini, menyebabkan mahasiswa
kerap dianggap sebagai salah satu segmen/bagian penting dalam kelompok sosial
masyarakat.
Bahkan, ada yang menyebutkan
bahwa mahasiswa sebagai kelompok terpelajar intelektual atau kelompok
strategis. Persepsi ini timbul karena kesadaran kritikal mahasiswa terhadap
kinerja kekuasaan dan lingkungan sosialnya. Persepsi semacam ini dalam kurun
waktu terdahulu menemukan basis empiriknya, yaitu peran heroik mahasiswa dalam
tiap segmen perubahan sosial dan politik penting sejarah negara-berbangsa,
termasuk sejarah panjang perjuangan Bangsa Indonesia.
Peran heroik mahasiswa itu
cenderung gegap gempita dalam struktur kepolitikan negara-bangsa otoriter. Karena
dalam struktur kepolitikan yang otoriter itu mahasiswa menemukan musuh bersama
yaitu penguasa otoriter yang jadi pengikat kesatuan kekuatan mahasiswa.
Sebaliknya, peran heroik mahasiswa, cenderung memudar, fluktuatif dan sepi
dalam struktur kepolitikan negara-bangsa yang demokratis. Sebab, struktur
kepolitikan demokratis niscaya berkepentingan mengakomodasi pelibatan kekuatan
sosial secara inklusif, termasuk mahasiswa. Sehingga, gaung peran heroik
mahasiswa itu tak mencuat ke permukaan, tetapi terlembaga dalam struktur
politik negara-bangsa.
Selalu ada konteks lingkungan
yang melingkupi gagasan dan kegiatan mahasiswa dimana dan kapanpun. Salah satu
kerangka pemikiran yang dapat dipakai untuk menjelaskan realitas interaksional
antara mahasiswa dengan lingkungannya adalah perspektif ekonomisme dan
perspektif politisisme. Benang merah perspektif ekonomisme dan perspektif politisisme
adalah fokus pada preferensi dan kepentingan bersama, bukan individu.
Sehingga,
dalam kerangka keberadaannya, mahasiswa dipahami sebagai komunitas yang
memiliki nilai bersama (share values), bukan dipahami sebagai individu-individu
mahasiswa yang memiliki nilai berfragmentasi (fragmented values). Perspektif
ekonomisme mengasumsikan proses-proses politik adalah hasil dari interaksi
antarkekuatan sosial yang ada dimasyarakat. Sedangkan perspektif politisisme
mengasumsikan negara/pemerintah adalah juga merupakan salah satu kekuatan
social yang terlibat dalam proses interaksi dengan kekuatan social yang lain.
Mahasiswa tak mungkin terlepas
dari politik. Sadar atau tidak sadar, suka atau tidak suka, mahasiswa akan
selalu dilingkupi oleh politik. Interaksi mahasiswa dengan politik dapat
bersifat tiga arah, yaitu, mempengaruhi, dipengaruhi, atau saling
mempengaruhi.
Hingga abab 20–an, politik
cenderung dilekatkan dengan konotasi ide atau ideologi. Beragam ideologi yang bermuara pada semangat
kemerdekaan, nasionalism-etnik, nasionalisme-civic dan kolektivisme menjadi
arus utama dalam diskursus dunia saat itu. Mahasiswa sebagai salah satu
kekuatan social dalam masyarakat pun terlibat aktif dalam pergumulan
ide/ideology dunia tersebut. Memasuki abab 21 hingga sekarang, konotasi politik
cenderung bergeser dari sekedar ide/ideologi menjadi kehadiran/representasi.
Mind-set dibalik politik kehadira/representasi mengandalkan setiap individu
atapun kelompok (termasuk mahasiswa) memiliki posisi dan hak yang sama untuk
berpartisipasi dalam tatanan kehidupan yang melingkupinya.
Di samping itu, berkembang
keyakinan bahwa perubahan tak mungkin terjadi hanya dengan gagasan, tetapi
harus dengan pelibatan diri dalam kelembagaan politik, maka jejaring ekonomi
politik niscaya menjadi persyaratan. Itu sebabnya, semua kekuatan sosial yang
ada di masyarakat termasuk mahasiswa, berkepentingan membangun jejaring dengan
partai politik, ormas, political executive, organisasi ekstra kampus, organisasi intra kampus,
LSM, kekuatan kapital bahkan kekuatan global. Semakin luas jejaring ekonomi
politik yang dimiliki, maka semakin besar peluang dilibatkan dalam kelembagaan
politik. Sebaliknya, semakin sempit jejaring ekonomi politiknya, maka semakin
besar peluang tersingkir dari kelembagaan politik.
G. Mahasiswa Kini, Mahasiswa Kuno
Membincang
dunia mahasiswa kini, biasanya tidak lepas dari upaya membandingkan realitas
kehidupan mahasiswa pada zaman atau periode sebelumnya. Jika hadir pertanyaan,
apakah ada perubahan dalam dunia mahasiswa dari setiap periode/generasi? Tentu saja
ada. Toh perubahan terjadi seiring dengan berjalannya waktu, apalagi sistem
sosial yang saat ini telah dipengaruhi oleh perkembangan teknologi yang kian
baru, berkembang dengan pesat.
Memperdebatkan kondisi atau realitas mahasiswa di setiap generasi untuk
menetapkan generasi mahasiswa mana yang paling unggul, tentu merupakan sebuah
perdebatan kusir, mahasiswa membentuk karakteristik masing-masing untuk setiap
generasi, belum lagi jika diperhatikan bahwa dalam satu generasi terdapat
begitu banyak dinamika dan karakter mahasiswa yang heterogen.
Oleh
karena itu, hal kekal (berlaku untuk setiap generasi) dari mahasiswa hanyalah
definisi, dan konsep individual yang memotivasi seseorang untuk menjadi
mahasiswa. Selain itu, karena mahasiswa belajar, mendalami ilmu pengetahuan, maka tentu saja ada
tanggung jawab bijak yang diembannya, sebagaimana peran atau fungsi ilmu
pengetahuan dalam kehidupan kita. Lebih lanjut, bagian ini akan secara rinci
jika diadakan diskusi mengenasi konsep mahasiswa dan ilmu pengetahuan, untuk
memahami bagaimana seorang manusia yang menjadi mahasiswa.
H. Perubahan-perubahan Behavioral
Mahasiswa
Dalam ilmu antropologi, terdapat beberapa
pola perubahan perilaku manusia yakni sebagai berikut:
Akulturasi
Akulturasi adalah suatu proses sosial yang
timbul dimana suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu yang mereka
miliki dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing. Sehingga
kebudayaan asing itu lambat laun akan diterima/diresap dan diolah ke dalam
kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan asli dari
kelompok itu sendiri.
Dalam perkembangannya, proses akulturasi
mengalami pemutakhiran metode yang awalnya suatu kebudayaan dipaksakan untuk
dilaksanakan oleh suatu kelompok budaya/masyarakat tertentu (kolonialisasi)
hingga saat ini, akulturasi berlangsung semakin halus yaitu dengan hegemoni
kebudayaan melalui media massay dengan membangun persepsi superioritas,
menggiring minat, dll.
Asimilasi
Asimilasi adalah pembauran dua kebudayaan
yang disertai dengan hilangnya ciri khas kebudayaan asli sehingga membentuk
kebudayaan campuran. Biasanya golongan yang ikut dalam suatu proses asimilasi
dalah suatu golongan mayoritas dan beberapa golongan minoritas.
Biasanya golongan minoritas inilah yang
mengubah sifat khas dari unsur-unsur kebudayaan dan menyesuaikannya dengan
kebudayaan golongan mayoritas secara sedemikian rupa sehingga lambat laun
kehilangan kebudayaannya, dan masuk kedalam kebudayaan mayoritas (Koentjaraningrat,
1979:255).
Suatu asimilasi ditandai oleh usaha-usaha
mengurangi perbedaan antara golongan atau kelompok. Untuk mengurangi perbedaan
itu, asimilasi meliputi usaha-usaha mempererat kesatuan tindakan, sikap, dan
perasaan dengan memperhatikan kepentingan serta tujuan bersama.
Difusi
Difusi adalah salah satu bentuk penyebaran
antau bergeraknya unsur-unsur kebudayaan dari satu tempat ke tempat lainnya.
Dimana penyebaran unsur-unsur kebudayaan biasanya dibawa oleh sekelompok
manusia dari suatu kebudayaan yang melakukan migrasi ke suatu tempat.
Evolusi
Evolusi merupakan perubahan yang dialami
suatu masyarakat yang biasanya berkembang dari tingkat sederhana ke tingkat
yang lebih kompleks. Dimana perubahan ini terjadi dalam waktu yang lama dan
melalui beberapa tahap-tahapan. Dalam konteks pembahasan antropologi kampus,
adanya suatu evolusi dipengaruhi oleh kebijakan kampus, pengalihan wacana atau
pengalihan pemahaman, misalahnya awalnya mahasiswa menganggap dirinya berperan
sebagai pelopor perubahan bangsa namun pelan-pelan pemahaman tersebut dialihkan
bahwa mahasiswa berperan sebagai seseorang yang harus belajar dan mendapatkan
prestasi.
Pembaruan Atau
Inovasi
Secara material/fisik, pembaruan atau
inovasi yang dimaksu adalah penemuan (discovery) sebagai
dampak dari berkembangnya pola pikir manusia dan adanya bantuan teknologi.
Namun secara sosial, adanya pembaruan terjadi karena adanya evaluasi atas
kehidupan, dimana timbul pengetahuan/pemikiran baru. Dalam dunia kemahasiswaan
hal ini bisa berupa berubahnya arah atau tujuan perjuangan kelompok mahasiswa,
hadirnya berbagai kelompok atau komunitas yang mengusung ide maupun ciri khas
yang berbeda, dll.
Secara umum, terdapat tiga alasan akan
adanya suatu pembaharuan, sebagaimana disampaikan oleh Koentjaraningrat bahwa ada tiga hal pendorong penemuan baru yaitu (Koentjaraningrat,
1979:258): (1) kesadaran para individu akan kekurangan dalam kebudayaan; (2)
mutu keahlian dalam suatu kebudayaan; (3) sistem perangsang bagi aktivitas
mencipta dalam masyarakat.
Dikutip dari berbagai
sumber