Pages

Bismillahirrahmanirrahiim... Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Selamat Datang di Blog PMII Cabang Wajo

Sunday, October 22, 2017

Pemantapan Materi Mapaba

Pemantapan materi Mapaba di sekretariat PC PMII Wajo, jalan Andi Pallawarukka Sengkang

Pemantapan materi Mapaba di sekretariat PC PMII Wajo, jalan Andi Pallawarukka Sengkang

Pemantapan materi Mapaba di sekretariat PC PMII Wajo, jalan Andi Pallawarukka Sengkang

Antropologi Kampus

Ilustrasi Kampus
A.    Kerangka Konseptual 
Antropologi secara terminologis (bahasa) berasal dari kata anthropos = manusia, dan logos = ilmu. Oleh karenanya, Antropologi merupakan suatu ilmu yang jangkauan pembahasannya membicarakan seputar manusia seperti perilaku (behavior), kebudayaan (culture), agama/kepercayaan (religion), bentuk fisik masyarakat (Suku dan ras), bahasa dan aspek-aspek materian maupun non-material lainnya dari manusia 

Antropologi mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial. Secara garis besar Antropologi bisa dibagi menjadi dua macam. Yang pertama ialah antropologi fisik, yang obyek kajiannya berupa manusia sebagai organisme biologis. Sedangkan kedua ialah antropologi budaya, yang obyek kajiannya terkait manusia sebagai makhluk sosial (ber)budaya.

Sederhananya, Antropologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang manusia. Para ahli antropologi mendefisinikan antropologi sebagai berikut:
  1. William A.Haviland (seorang Antropolog Amerika) Antropologi adalah studi tentang umat manusia, berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya  serta untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia.
  2. David Hunter. Antropologi adalah ilmu yang lahir dari keingintahuan yang tidak terbatas tentang umat manusia.
  3. Koentjaraningrat (Bapak Antropolog Indonesia) Antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat sertakebudayaan yang dihasilkan.

Dari ke-tiga definisi di atas penulis menyimpulkan bahwa Antropologi merupakan ilmu atau bidang studi yang mempelajari tentang segala sesuatu apa-apa yang berkaitan dengan manusia baik berupa fisik maupun budaya sehingga dapat disimpulkan kecendrungan manusia sebagai makhluk sosial.

Sementara itu, kampus sebagai lingkungan akademis terdiri dari berbagai “warna kehidupan”, ada yang berperan sebagai dosen, mahasiswa, karyawan/pegawai. Peran yang paling penting dan merupakan ciri utama universitas (kampus) adalah dosen dan mahasiswa yang merepresentasikan adanya hubungan saling bertukar informasi atau pengetahuan.

Sebagaimana mahasiswa secara umum, para dosen pun sejatinya memiliki karakteristik yang jika dipandang dengan kacamata antropologi memiliki beragam karakter dalam menjalankan perannya itu. 

Mahasiswa sendiri, sebagai kelompok atau golongan yang berjuang untuk mencapai tujuan masing-masing, sangat menarik menjadi pembahasan, selain adanya proses mencari (search) dan ‘menjadi’ (become), ada pula peran-perannya yang sangat penting dan potensial bagi sekelompok orang. Jika pembicaraan mengenai mahasiswa dirangkum dalam sebuah forum, maka diskusi akan berlangsung panjang, mulai dari definisi hingga konsep tujuan.

Pembahasan mengenai materi antropologi kampus, perlu menyesuaikan kondisi manusia dimana kacamata antropologi ini digunakan untuk melihat dan mengenali seluk-beluk manusia. Dalam hal ini, dalam lingkungan kampus, dimana manusia melakukan kegiatan pertukaran informasi dan kegiatan sosial akademis guna tercapainya tujuan-tujuan yang menjadi motivasi masing-masing.

B.     Kampus dan Norma Kampus
Pengertian Kampus
Berasal dari bahasa Latin: campus yang berarti "lapangan luas", "tegal".
Pengertian modern, kampus berarti sebuah kompleks atau daerah tertutup yang merupakan kumpulan gedung-gedung universitas atau perguruan tinggi. Bisa pula berarti sebuah cabang daripada universitas sendiri.

Kampus juga terkadang menyediakan asrama untuk mahasiswa. Di Inggris dan banyak negara jajahannya seperti Amerika Serikat dan lain-lain, sebuah kampus terdiri dari universitas atau sekolah dengan asrama atau tempat kos atau pondok para mahasiswa. Di sana sebuah gedung sekolah berada di kompleks yang sama dengan gedung penginapan.

Di Indonesia hal-hal seperti ini kadang-kadang ada pula, terutama di tempat akademi militer, dan sekarang mulai dilakukan pula oleh beberapa kampus besar seperti UI, Undip, dan IAIN, dengan mendirikan asrama di sekitar kampus akan membuat mahasiswa lebih banyak mengabiskan waktunya untuk studi dan mudah dikontrol oleh pihak kampus.

Kampus merupakan tempat belajar-mengajar berlangsungnya misi dan fungsi perguruan tinggi. Dalam rangka menjaga kelancaran fungsi-fungsi tersebut, upaya sebagai lembaga pendidikan tinggi yang mengembangkan tugas Tri Dharma Perguruan Tinggi, memerlukan penyatuan waktu kegiatan beserta ketentuan-ketentuan di dalam kampus.

Norma Akademik (Etika Kampus)
Norma akademik adalah ketentuan, peraturan dan tata nilai yang harus ditaati oleh seluruh mahasiswa kampus berkaitan dengan aktivitas akademik.

Tujuan norma akademik: agar para mahasiswa mempunyai gambaran yang jelas tentang hal-hal yang perlu dan/seharusnya dilakukan dalam menghadapi kemungkinan timbulnya permasalahan baik masalah-masalah akademik maupun masalah-masalah non akademik.

Masalah akademik: masalah yang berkaitan langsung dengan kegiatan kurikuler. Masalah non akademik: masalah yang terkait dengan kegiatan non kurikuler.

Pelanggaran: perilaku atau perbuatan, ucapan, tulisan yang bertentangan dengan norma dan etika kampus.

Etika kampus: ketentuan atau peraturan yang mengatur perilaku/atau tata krama yang harus dilaksanakan oleh mahasiswa kampus. Etika kampus meliputi 2 hal penting yaitu ketertiban dan tata krama.

C.    Pengertian Antropologi Kampus
Antropologi kampus pada dasarnya berusaha menjelaskan bagaimana kehidupan (manusia) dalam lingkungan kampus, khususnya mahasiswa  sebagai pemeran utama.

Antropologi sebenarnya kata yang sudah tidak asing lagi di telinga kita apabila disematkan dengan kata Antropologi budaya, antropologi politik, antropologi agama dan lain sebagainya. Namun begitu asing ketika kata antropologi itu sendiri disandingkan dengan kata kampus. Karena memang belum ada suatu cabang yang secara terstruktur dan pembahasan yang tuntas mengenai antropologi kampus.

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia sebagai organisasi gerakan mahasiswa menganggap bahwa kader-kadernya seharusnya dapat memahami bahkan membaca kampus mereka sendiri. Hal ini penting sebagai pijakan mereka berproses di bangku perkuliahan.

Kampus merupakan tempat belajar mengajar, berlangsungnya misi dan fungsi perguruan tinggi, tempat berinteraksi antara dosen dengan mahasiswa, mahasiswa dengan mahasiswa. Kampus boleh dikatakan miniatur negara karena di dalamnya ada politik dan kebudayaan yang bermacam-macam.

Kampus sebagai lingkungan akademis terdiri dari berbagai warna kehidupan, ada yang berperan sebagai dosen, mahasiswa, pegawai, yang menjadi peran paling penting dan ciri utama sebuah kampus adalah dosen dan mahasiswa yang mempresentasikan adanya hubungan saling bertukar informasi atau pengetahuan.

Kampus adalah ruang kaderisasi bangsa. Kampus memiliki pemerintahan dan rakyat, oleh karenanya kita akan menemukan berbagai kelompok yang akan bertaruh dalam memperebutkan eksistensi di kampus. Benturan ideologi antar gerakan mahasiswa pun akan terjadi di kampus, inilah yang menjadikan kehidupan di kampus menjadi sangat kondusif.

Kampus memiliki pemerintahan BEM atau SEMA, PEMIRA sebagai momentum mengakselerasikan perubahan-perubahan yang dianggap penting oleh gerakan mahasiswa dengan segala karakteristik perjuangannya.

PMII sebagai organisasi ekstra kampus membina dan mendistribusikan kader-kadernya untuk aktif dalam lembaga-lembaga kampus, agar kader PMII bisa menempa dan mengembangkan kemampuan yang dimilikinya. Dan disinilah PMII akan semakin meneguhkan perjuangannya dalam menyalurkan aspirasi mahasiswa di segala lapisan baik akademisi, organisatoris hingga preman kampus.

D.    Tipologi Mahasiswa
Sebagai kader PMII kita harus mengetahui beberapa tipologi mahasiswa, setiap mahasiswa memiliki gaya atau tipe yang berbeda, kita sebagai kader PMII harus mampu menempatkan diri kita pada golongan yang seperti apa.

Ada kampus pasti ada sivitas akademika, baik rektor, pembantu rektor, dekan, dosen, pegawai, dan mahasiswa. Semua sivitas akademika tersebut satu sama lainnya saling terkait. Mahasiswa sebagai komponen utama (karena jumlahnya lebih banyak ketimbang yang lainnya) sangat penting diperhatikan bagi denyut nadi kampus. Mahasiswa datang dari berbagai penjuru daerah tentu mempunyai latar belakang dan karakter yang berbeda-beda. 

Sebagai mahasiswa, mayoritas anggota baru PMII perlu memahami berbagai jenis tipologi mahasiswa dan kira-kira ingin menampatkan dirinya dalam tipe seperti apa.

Pengklasifikasian atas tipologi mahasiswa ini tidak bersifat paten karena setiap diri kita bisa membuat tipologi sesuai dengan yang kita lihat dan rasakan. Anda sendiri bisa memegang dua katagori atau tiga bahkan empat sekaligus dari tipologi yang ada. Bahkan mungkin masih membuka munculnya jenis tipologi lainnya. Yang penting semoga Anda bisa berguna bagi diri Anda sendiri dan bagi orang lain dalam lingkungan kehidupan keluarga, organisasi dan masyarakat.

Adapun beberapa tipologi mahasiswa dirangkum sebagai berikut:
Mahasiswa Pemimpin
Tipikal mahasiswa seperti ini selalu terlihat mencolok dan aktif dibandingkan mahasiswa lainnya. Hidupnya di perkuliahan sangat bervariatif (diisi dengan berbagai kegiatan) dan ia tidak hanya belajar dari kuliah semata, namun juga belajar dari lingkungan.
Ia akan aktif di organisasi, baik intra maupun ektra kampus. Biasanya (tapi tidak mengikat)  tipe mahasiswa seperti ini tidak memiliki keinginan yang besar untuk lulus terlalu cepat, karena ia mencari pengalaman sebanyak-banyaknya untuk menjadi pemimpin di masa depan. Cita-citanya, biasanya ingin menjadi pemimpin perusahaan, lurah, bupati, DPR, menteri, bahkan presiden.
Mahasiswa Pemikir
Golongan mahasiswa yang memanfaatkan status kemahasiswaannya sebagai waktu untuk menimba ilmu. Tipikal mahasiswa jenis ini selalu berpikir dan terus berpikir. Hobinya membaca buku, diskusi dan menulis. Terkadang orang jenis ini –karena terus belajar- tanpa menghiraukan sekitarnya, agar bisa mendapatkan jawaban atas apa yang dipikirkannya. Biasanya tipe mahasiswa seperti ini jika telah lulus ingin jadi ilmuwan, peneliti, dosen atau akademisi.
Mahasiswa Aktivis
Mahasiswa yang ikut dan aktif pada organisasi, baik intra maupun ekstra (namun lebih cenderung pada organisasi ekstra). Banyak anggapan negatif yang akhirnya dikonsumsi sendiri oleh para aktivis bahwa, dengan aktif di organisasi, maka kuliah dapat berantakan, sementara organisasi dianggap sebagai tempat membuang waktu semata. Sayangnya, pendapat ini datang dari orang-orang yang kurang mengecap dan memahami manfaat berorganisasi.
Mahasiswa Apatis
Sikap acuh tak acuh, tak mau tahu tentang kondisi sosial dan politik di kampus.
Mahasiswa Humoris
Mahasiswa yang memanfaatkan waktunya sebagai masa liburan, mendapatkan kebebasan dari perhatian orang tua.
Mahasiswa Study Oriented
Tipikal mahasiswa jenis ini selalu rajin masuk kuliah dan melaksanakan tugas-tugas akademik. Mahasiswa jenis ini tidak mau tahu dengan apa yang terjadi di kampus. Pokoknya yang penting mendapatkan nilai bagus dan cepat lulus. 
Mahasiswa Hedonis
Tipe mahasiswa seperti ini tiada banyak berpikir, tidak mau aktif di organisasi. Ia selalu menjalani kehidupan dengan hedonis, glamour, dan happy-happy. Kalau ke kampus sering memakai pakaian yang norak, memakai mobil, dan nongkrong di mall, kafe, dan tempat hiburan lainnya. 
Mahasiswa Agamis
Tipikal mahasiswa seperti ini kemana-mana selalu membawa al-Qur’an, berpakaian ala orang Arab, tampil terkesan Islami, menjaga jarak terhadap lain jenis yang tidak muhrim. 
Mahasiswa K3 (Kampus, Kos dan Kampung)
Tipikal mahasiswa seperti ini kesibukanya hanya K3, yaitu kampus, kos dan kampung. Kalau tiba jam kuliah ya berangkat kuliah, kalau selesai pulang kos, atau kalau ada waktu cukup, pulang kampung.
Mahasiswa Santai Semaunya Sendiri
Tipe mahasiswa seperti ini tiada banyak berpikir, selalu menjalani kehidupan apa adanya. Enjoy aja! Biasanya tipikal mahasiswa seperti ini aktif di bidang seni dan olahraga. Dia tidak terlalu memikirkan kuliah, karena yang penting dalam hidupnya adalah santai. Biasanya mahasiswa seperti ini lama sekali lulusnya, karena nilainya juga santai.

E.     PMII dan Rekayasa Kampus
Dunia perpolitikan mahasiswa yang tak pernah lepas dari wilayah kampus membuat PMII mau atau tidak mau akan terlibat dalam pusaran rebutan kekuasaan kampus. Meskipun diakui ataupun tidak, mahasiswa pada umunya cenderung bersikap apolitis dengan berbagai isu kebijakan birokrat kampus dan para pejabat mahasiswa, namun tetap saja mahasiswa berpolitik dalam arti yang lebih luas. Dikarenakan politik memiliki lingkup yang menyeluruh dalam setiap aspek kehidupan, tergantung sudut pandang masing-masing.

PMII sebagai organisasi ekstra kampus membina dan mendistribusikan kader-kadernya untuk aktif dalam lembaga-lembaga kampus, bahkan akan mendorong kadaer-kader terbaik memimpin lembaga-lembaga tersebut. Keberadaan lembaga-lembaga tersebut, bagi PMII adalah sebagai ruang distribusi kader karena di lembaga tersebut kader PMII bisa menempa dan mengembangkan kemampuan yang dimilikinya agar lebih maju dan profesional.

PMII memandang lembaga intra kampus sangat strategis sebagai wahana kaderisasi. Pada umumnya, ada beberapa jenis lembaga kampus yang memiliki otoritas tertentu dalam mengayomi kampus dan mahasiswa, yaitu Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Himpunan Mahasiswa Fakultas/Jurusan (HMF/J) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Lembaga-lembaga tersebut bermain dalam wilayah internal kampus dan kepengurusannya berisikan mahasiswa yang tercatat masih aktif program studinya.

Secara umum, ke tiga jenis lembaga ini memiliki andil penting dalam rekayasa kampus. Mau kemana dan bagaimana nantinya kampus akan dikelola, lembaga inilah yang akan mewujudkannya dalam tataran kerja nyata di lapangan.

Dengan menguasai lembaga intra kampus, PMII akan semakin meneguhkan perjuangannya dalam menyalurkan aspirasi mahasiswa di segala lapisan baik akademisi, organisatoris hingga preman kampus. Perlu diingat bahwa Perguruan Tinggi merupakan salah satu sarana yang dibuat dalam meningkatkan pembangunan negara secara umum, oleh karena itu tak heran bahwa banyak perubahan besar yang diawali dari gerakan lembaga kemahasiswaan ini.

Adanya lapangan bola, internet, pustaka hingga tempat parkir merupakan fasilitas yang diberikan karena adanya sebuah permintaan yang dalam hal ini diajukan oleh mahasiswa secara umum dan disampaikan kepada pihak birokrat melalui lembgaga kemahasiswaan jalur komunikasi antara mahasiswa dan birokrat kampus. Ketika birokrat kampus serta lembaga-lembaga ini tidak mampu berkoordinasi dalam mengaspirasikan harapan civitas kampus umum, maka akan timbul saling ketidakpercayaan, stagnansi hingga kemerosotan akreditasi kampus dalam tataran akademis, fasilitas dan budaya. 

Kampus dan mahasiswa berada. Kampus bisa menjadi tempat bagi mahasiswa untuk mengembangkan aktualisasi dan apresiasinya sesuai dengan kebutuhannya. Hal ini merupakan sisi positif yang dimiliki mahasiswa. Kesempatan seperti ini tentu tidak dimiliki mereka yang tidak sempat belajar di kampus. 

Sebagai bagian dari elemen mahasiswa, PMII memandang sangat vital keberadaan kampus, tidak hanya semata-mata untuk tempat pembelajaran, tetapi juga sebagai wahana untuk menempa dan mengembangkan bakat potensi yang dimiliki para anggotanya.

F.     Mahasiswa dan Dunia Politik
Mahasiswa merupakan bagian dari kelompok bermasyarakat/sosial yang secara khusus mendapat kesempatan mengikuti proses pendidikan formal di bangku kuliah perguruan tinggi. Potensi bekal pengetahuan yang didapat lewat bangku kuliah atau pendidikan tinggi ini, menyebabkan mahasiswa kerap dianggap sebagai salah satu segmen/bagian penting dalam kelompok sosial masyarakat.

Bahkan, ada yang menyebutkan bahwa mahasiswa sebagai kelompok terpelajar intelektual atau kelompok strategis. Persepsi ini timbul karena kesadaran kritikal mahasiswa terhadap kinerja kekuasaan dan lingkungan sosialnya. Persepsi semacam ini dalam kurun waktu terdahulu menemukan basis empiriknya, yaitu peran heroik mahasiswa dalam tiap segmen perubahan sosial dan politik penting sejarah negara-berbangsa, termasuk sejarah panjang perjuangan Bangsa Indonesia.

Peran heroik mahasiswa itu cenderung gegap gempita dalam struktur kepolitikan negara-bangsa otoriter. Karena dalam struktur kepolitikan yang otoriter itu mahasiswa menemukan musuh bersama yaitu penguasa otoriter yang jadi pengikat kesatuan kekuatan mahasiswa. Sebaliknya, peran heroik mahasiswa, cenderung memudar, fluktuatif dan sepi dalam struktur kepolitikan negara-bangsa yang demokratis. Sebab, struktur kepolitikan demokratis niscaya berkepentingan mengakomodasi pelibatan kekuatan sosial secara inklusif, termasuk mahasiswa. Sehingga, gaung peran heroik mahasiswa itu tak mencuat ke permukaan, tetapi terlembaga dalam struktur politik negara-bangsa.

Selalu ada konteks lingkungan yang melingkupi gagasan dan kegiatan mahasiswa dimana dan kapanpun. Salah satu kerangka pemikiran yang dapat dipakai untuk menjelaskan realitas interaksional antara mahasiswa dengan lingkungannya adalah perspektif ekonomisme dan perspektif politisisme. Benang merah perspektif ekonomisme dan perspektif politisisme adalah fokus pada preferensi dan kepentingan bersama, bukan individu. 

Sehingga, dalam kerangka keberadaannya, mahasiswa dipahami sebagai komunitas yang memiliki nilai bersama (share values), bukan dipahami sebagai individu-individu mahasiswa yang memiliki nilai berfragmentasi (fragmented values). Perspektif ekonomisme mengasumsikan proses-proses politik adalah hasil dari interaksi antarkekuatan sosial yang ada dimasyarakat. Sedangkan perspektif politisisme mengasumsikan negara/pemerintah adalah juga merupakan salah satu kekuatan social yang terlibat dalam proses interaksi dengan kekuatan social yang lain.

Mahasiswa tak mungkin terlepas dari politik. Sadar atau tidak sadar, suka atau tidak suka, mahasiswa akan selalu dilingkupi oleh politik. Interaksi mahasiswa dengan politik dapat bersifat tiga arah, yaitu, mempengaruhi, dipengaruhi, atau saling mempengaruhi. 

Hingga abab 20–an, politik cenderung dilekatkan dengan konotasi ide atau ideologi. Beragam ideologi yang bermuara pada semangat kemerdekaan, nasionalism-etnik, nasionalisme-civic dan kolektivisme menjadi arus utama dalam diskursus dunia saat itu. Mahasiswa sebagai salah satu kekuatan social dalam masyarakat pun terlibat aktif dalam pergumulan ide/ideology dunia tersebut. Memasuki abab 21 hingga sekarang, konotasi politik cenderung bergeser dari sekedar ide/ideologi menjadi kehadiran/representasi. Mind-set dibalik politik kehadira/representasi mengandalkan setiap individu atapun kelompok (termasuk mahasiswa) memiliki posisi dan hak yang sama untuk berpartisipasi dalam tatanan kehidupan yang melingkupinya. 

Di samping itu, berkembang keyakinan bahwa perubahan tak mungkin terjadi hanya dengan gagasan, tetapi harus dengan pelibatan diri dalam kelembagaan politik, maka jejaring ekonomi politik niscaya menjadi persyaratan. Itu sebabnya, semua kekuatan sosial yang ada di masyarakat termasuk mahasiswa, berkepentingan membangun jejaring dengan partai politik, ormas, political executive, organisasi ekstra kampus, organisasi intra kampus, LSM, kekuatan kapital bahkan kekuatan global. Semakin luas jejaring ekonomi politik yang dimiliki, maka semakin besar peluang dilibatkan dalam kelembagaan politik. Sebaliknya, semakin sempit jejaring ekonomi politiknya, maka semakin besar peluang tersingkir dari kelembagaan politik. 

G.    Mahasiswa Kini, Mahasiswa Kuno 
Membincang dunia mahasiswa kini, biasanya tidak lepas dari upaya membandingkan realitas kehidupan mahasiswa pada zaman atau periode sebelumnya. Jika hadir pertanyaan, apakah ada perubahan dalam dunia mahasiswa dari setiap periode/generasi? Tentu saja ada. Toh perubahan terjadi seiring dengan berjalannya waktu, apalagi sistem sosial yang saat ini telah dipengaruhi oleh perkembangan teknologi yang kian baru, berkembang dengan pesat.

Memperdebatkan kondisi atau realitas mahasiswa di setiap generasi untuk menetapkan generasi mahasiswa mana yang paling unggul, tentu merupakan sebuah perdebatan kusir, mahasiswa membentuk karakteristik masing-masing untuk setiap generasi, belum lagi jika diperhatikan bahwa dalam satu generasi terdapat begitu banyak dinamika dan karakter mahasiswa yang heterogen. 

Oleh karena itu, hal kekal (berlaku untuk setiap generasi) dari mahasiswa hanyalah definisi, dan konsep individual yang memotivasi seseorang untuk menjadi mahasiswa. Selain itu, karena mahasiswa belajar, mendalami ilmu pengetahuan, maka tentu saja ada tanggung jawab bijak yang diembannya, sebagaimana peran atau fungsi ilmu pengetahuan dalam kehidupan kita. Lebih lanjut, bagian ini akan secara rinci jika diadakan diskusi mengenasi konsep mahasiswa dan ilmu pengetahuan, untuk memahami bagaimana seorang manusia yang menjadi mahasiswa. 

H.    Perubahan-perubahan Behavioral Mahasiswa 
Dalam ilmu antropologi, terdapat beberapa pola perubahan perilaku manusia yakni sebagai berikut:
Akulturasi
Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul dimana suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu yang mereka miliki dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing. Sehingga kebudayaan asing itu lambat laun akan diterima/diresap dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan asli dari kelompok itu sendiri. 
Dalam perkembangannya, proses akulturasi mengalami pemutakhiran metode yang awalnya suatu kebudayaan dipaksakan untuk dilaksanakan oleh suatu kelompok budaya/masyarakat tertentu (kolonialisasi) hingga saat ini, akulturasi berlangsung semakin halus yaitu dengan hegemoni kebudayaan melalui media massay dengan membangun persepsi superioritas, menggiring minat, dll.
Asimilasi
Asimilasi adalah pembauran dua kebudayaan yang disertai dengan hilangnya ciri khas kebudayaan asli sehingga membentuk kebudayaan campuran. Biasanya golongan yang ikut dalam suatu proses asimilasi dalah suatu golongan mayoritas dan beberapa golongan minoritas.
Biasanya golongan minoritas inilah yang mengubah sifat khas dari unsur-unsur kebudayaan dan menyesuaikannya dengan kebudayaan golongan mayoritas secara sedemikian rupa sehingga lambat laun kehilangan kebudayaannya, dan masuk kedalam kebudayaan mayoritas (Koentjaraningrat, 1979:255).
Suatu asimilasi ditandai oleh usaha-usaha mengurangi perbedaan antara golongan atau kelompok. Untuk mengurangi perbedaan itu, asimilasi meliputi usaha-usaha mempererat kesatuan tindakan, sikap, dan perasaan dengan memperhatikan kepentingan serta tujuan bersama.
Difusi
Difusi adalah salah satu bentuk penyebaran antau bergeraknya unsur-unsur kebudayaan dari satu tempat ke tempat lainnya. Dimana penyebaran unsur-unsur kebudayaan biasanya dibawa oleh sekelompok manusia dari suatu kebudayaan yang melakukan migrasi ke suatu tempat. 

Evolusi
Evolusi merupakan perubahan yang dialami suatu masyarakat yang biasanya berkembang dari tingkat sederhana ke tingkat yang lebih kompleks. Dimana perubahan ini terjadi dalam waktu yang lama dan melalui beberapa tahap-tahapan. Dalam konteks pembahasan antropologi kampus, adanya suatu evolusi dipengaruhi oleh kebijakan kampus, pengalihan wacana atau pengalihan pemahaman, misalahnya awalnya mahasiswa menganggap dirinya berperan sebagai pelopor perubahan bangsa namun pelan-pelan pemahaman tersebut dialihkan bahwa mahasiswa berperan sebagai seseorang yang harus belajar dan mendapatkan prestasi. 

Pembaruan Atau Inovasi
Secara material/fisik, pembaruan atau inovasi yang dimaksu adalah penemuan (discovery) sebagai dampak dari berkembangnya pola pikir manusia dan adanya bantuan teknologi. Namun secara sosial, adanya pembaruan terjadi karena adanya evaluasi atas kehidupan, dimana timbul pengetahuan/pemikiran baru. Dalam dunia kemahasiswaan hal ini bisa berupa berubahnya arah atau tujuan perjuangan kelompok mahasiswa, hadirnya berbagai kelompok atau komunitas yang mengusung ide maupun ciri khas yang berbeda, dll. 

Secara umum, terdapat tiga alasan akan adanya suatu pembaharuan, sebagaimana disampaikan oleh Koentjaraningrat bahwa ada tiga hal pendorong penemuan baru yaitu (Koentjaraningrat, 1979:258): (1) kesadaran para individu akan kekurangan dalam kebudayaan; (2) mutu keahlian dalam suatu kebudayaan; (3) sistem perangsang bagi aktivitas mencipta dalam masyarakat.

Dikutip dari berbagai sumber