Pages

Bismillahirrahmanirrahiim... Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Selamat Datang di Blog PMII Cabang Wajo

Wednesday, June 22, 2016

PMII Wajo Turut Andil pada Kegiatan Kampoeng Ramadhan


Sahabat(i) PC PMII Wajo saat mengikuti pembukaan Kampoeng Ramadhan
PMII.Wajo – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Wajo turut berpartisipasi dalam kegiatan Kampoeng Ramadhan yang diselenggarakan oleh Mudama Art Production di lapangan Merdeka Sengkang.

Ada beberapa kegiatan yang digelar oleh PC PMII Wajo dalam rangkaian Kampoeng Ramadhan tersebut, seperti Lomba yang dibagi atas dua kategori usia. Pertama, lomba Hafalan Surah-surah Pendek, Lomba Adzan, dan Pemilihan Dai Cilik (Pildacil) untuk kategori usia 7 – 12 tahun. Kedua, lomba Lagu Religi dan lomba Barazanji untuk kategori umum.

“Untuk semua jenis lomba, kami masih membuka pendaftaran. Rencananya pendaftaran akan ditutup pada 19 Juni mendatang. Tapi kalau masih memungkinkan, pendaftaran akan kami perpanjang. Itu akan disesuaikan dengan jumlah calon peserta yang telah mendaftar,” kata ketua Panitia Lomba, Sri Hardyanti.

Ketua Pengurus Cabang (PC) PMII Wajo, sahabat Abdul Rahman, saat dikonfirmasi mengatakan turut andilnya PC PMII Wajo dalam kegiatan Kampoeng Ramadhan ini sebagai bentuk eksistensi PMII, khususnya PMII Wajo dalam membina generasi yang Islami.

“Kami sangat tertarik untuk turut andil dalam Kampoeng Ramadhan karena ini sangat sinkron dengan organisasi kami yang bernuansa Islam. Hal ini juga sebagai bentuk eksistensi PMII Wajo dalam membina generasi yang Islami,” tutur Abdul Rahman.

Kegiatan yang dibuka secara langsung oleh Bupati Wajo ini diikuti dari berbagai kalangan perusahaan dan organisasi dengan berbagai bentuk kegiatan, seperti fashion, bisnis, kuliner, dan lomba religi.

(Dikutip dari Kabar Wajo)

Sunday, May 29, 2016

Inilah Alasan Habibie Di Nobatkan Sebagai Muslim Tercerdas di Dunia.. Luar Biasa

Presiden Republik Indonesia ketiga, BJ Habibie disebut sebagai salah seorang Muslim tercerdas di dunia. Akun Twitter, @TwitFaktaIslam menyebut, Habibie masuk ke dalam 10 besar tokoh dunia dengan intelligence quotient (IQ) 200.

Sebagai perbandingan, penemu teori relativitas gravitasi Albert Einstein, yang disebut sebagai ilmuan terhebat sepanjang masa ;hanya’ mempunyai IQ 160. Skor IQ Habibie juga masih lebih tinggi daripada sir Isaac Newton (190) dan Galileo Galilei (165). 

IQ adalah ukuran kemampuan intelektual, analisis, logika, dan rasio seseorang. IQ dijadikan patokan kecerdasan otak untuk menerima, menyimpan, dan mengolah informasi menjadi fakta. 

Mantan menteri riset dan teknologi (menristek) ini menjadi satu-satunya orang yang masih hidup hingga kini. Pasalnya, sembilan orang lainnya yang memiliki kecedasan intelektual paling tinggi sudah wafat. “Mantan Presiden RI,BJ Habibie masuk 10 Besar tokoh dunia yg IQ nya mencapai 200, 9 Tokoh lainnya tlh wafat,” demikian kicauan itu.

Profil Presiden Ketiga Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie

BJ Habibie lahir di Sulawesi Selatan tepatnya di Parepare pada tahun 1936. Dia menjadi presiden ketiga RI setelah menggantikan presiden Soeharto yang mengundurkan diri dan menjabat selama 1 tahun 5 bulan sebagai presiden setelah sebelumnya sudah menjabat sebagai wakil presiden. Sayangnya, masa jabatan beliau sangatlah pendek dibandingkan presiden-presiden lain yang pernah menjabat selama ini. Setelah mengundurkan diri, dia digantikan oleh presiden Abdurrahman Wahid atau yang lebih dikenal sebagai Gus Dur.

BJ Habibie adalah anak ke-4 dari delapan bersaudara dan beliau lahir dari pasangan suami-istri Alwi Abdul Jalil Habibie dan R.A. Tuti Marini Puspowardojo. Pada tahun 1962, beliau menikah dengan Hasri Ainun Besari yang sekarang juga lebih dikenal dengan Ainun Habibie. Dari pernikahannya tersebut lahirlah dua orang putra yang diberi nama Ilham Akbar dan Thareq Kemal.

Habibie pernah studi teknik mesin di ITB (Institut Teknologi Bandung) pada tahun 1954. Lalu dia melanjutkan studi di bidang penerbangan dari tahun 1955 sampai dengan 1965 di Jerman Barat dan lulus dengan predikat summa cum laude. Dari studinya, beliau menerima gelar diplom ingenieur dan doktor ingenieur. Tidak mengherankan lagi kalau soal prestasi selama masa studinya, sebab Ia miliki IQ 200, BJ Habibie jadi muslim tercerdas dunia. Kisah cintanya dengan sang istri, Ainun bahkan juga difilmkan dan sangat booming di Indonesia.

Semoga menginspirasi generasi muda dan anak-anak kita.

Sumber : http://nasional.republika.co.id/

Friday, April 29, 2016

Arti Lambang dan Bendera PMII


Lambang PMII

LAMBANG PMII

Pencipta lambang PMII : H. Said Budairi

A. Makna lambang PMII
Bentuk :
  1. Perisai berarti ketahanan dan keampuhan mahasiswa Islam terhadap berbagai tantangan dan pengaruh dari luar.
  2. Bintang adalah perlambang ketinggian dan semangat cita-cita yang selalu memancar.
  3. 5 (lima) bintang sebelah atas melambangkan Rasulullah dengan empat sahabat terkemuka (khulafaurrasyidin).
  4. 4 (empat) bintang sebelah bawah menggambarkan empat mazhab yang berhadluan Ahlussunah Wal Jama’ah.
  5. 9 (sembilan) bintang secara keseluruhan dapat berarti :
  • Rasulullah dengan empat orang sahabatnya serta empat orang imam mazhab itu laksana bintang yang selalu bersinar cemerlang, mempunyai kedudukan yang tinggi dan penerang umat manusia.
  • Sembilan bintang juga menggambarkan sembilan orang pemuka penyebar agama Islam di Indonesia yang disebut dengan Wali Songo
Warna:
  1. Biru, sebagaimana tulisan PMII, berarti kedalaman ilmu pengetahuan yang harus dimiliki dan harus digali oleh warga pergerakan, biru juga menggambarkan lautan Indonesia dan merupakan kesatuan Wawasan Nusantara
  2. Biru muda, sebagaimana dasar perisai sebelah bawah berarti ketinggian ilmu pengetahuan, budi pekerti dan taqwa.
  3. Kuning, sebagaimana perisai sebelah atas berarti identitas mahasiswa yang menjadi sifat dasar pergerakan, lambang kebesaran dan semangat yang selalu menyala serta penuh harapan menyongsong masa depan

Penggunaan:
  • Lambang PMII digunakan pada papan nama, bendera, kop surat, stempel, badge, jaket, kartu anggota, dan benda atau tempat lain yang tujuannya untuk menunjukkan identitas organisasi.
  • Ukuran lambang PMII disesuaikan dengan wadah penggunaannya.

BENDERA PMII

Pencipta Bendera PMII : Shaimory

Ukuran Bendera PMII : Panjang dan lebar (4 : 3)

Warna dasar bendera PMII : Kuning

Isi bendera PMII :
Lambang PMII terletak di bagian tengah
Tulisan PMII terletak di sebelah kiri lambang membujur ke bawah.

Penggunaan bendera PMII
Digunakan pada upacara-upacara resmi organisasi baik intern maupun ekstern dan upacara nasional.

Thursday, April 28, 2016

Susi Pudjiastuti, Kini Seorang Menteri


Susi Pudjiastuti
Diangkatnya Susi Pudjiastuti sebagai menteri kelautan dan perikanan sontak mengundang pro dan kontra di masyarakat. Hal yang diperdebatkan ialah terkait jenjang pendidikan formalnya yang hanya sampai pada tingkat SMP. Ia pernah mengenyam pendidikan menengah atas namun hanya sampai kelas II. Agaknya, Jokowi-JK punya pertimbangan sendiri sehingga mendelegasikan Ibu Susi sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan. Jika ukuran kinerja menteri adalah profesionalitas, lantas anggapan sekarang semakin tinggi tingkat pendidikan sesorang maka semakin professional apa masih berlaku?

Penulis tidak mencoba mendikotomi antara orang tidak sekolah dan yang sekolah, toh kecerdasan itu relati. Mari kita merenungkan kembali, apakah Ibu Pudjiastuti diangkat sebagai Menteri sudah tepat? Biar waktu yang akan menjawabnya.

Kini, kita harus bisa bertanggungjawab untuk menjelaskan ke anak cucu bahwa sekolah itu tetap “penting”. Memang ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi para orang tua, pendidik, dan seluruh stake holder kedepannya. Dengan diangkatnya Ibu Susi Pudjiastuti sebagai Menteri, semoga tidak semakin banyak orang tua yang memilih menikahkan dan menyuruh anaknya bekerja di usia dini dibanding menyekolahkan ke jenjang yang lebih tinggi.

Di masyarakat masih sering kita temukan orang tua yang pikirannya konservatif yang beranggapan bahwa “sekolah untuk dapat kerjaan, daripada menghabiskan waktu bertahun-tahun ujungnya kerjaan, bukankah lebih baik langsung kerja dan tidak menghabiskan waktu lama?”. Mereka lebih mementingkan kerjaan dibanding sekolah, kekhawatiran penulius, dengan diangkatnya Ibu Susi sebagai Menteri maka akan dijadikan contoh dan pembenaran di masyarakat. Pembenaran untuk menjustifikasi bahwa yang mereka lakukan selama ini memang tepat.

Jika demikian, dalam kurun waktu 5 tahun ke depan, jangan salahkan jika masyarakat beranggapan bahwa sekolah formal tidak lagi penting atau dengan kata lain dihilangkan. Cukup melihat profesionalitas tiap individu untuk mengelola semuanya. Atau yang lebih ekstrim lagi “dunia pendidikan” yang selama ini mewajibkan kualifikasi pendidikan formal minimal setingkat di atasnya juga dihapuskan. Cukup melihat apakah seseorang mampu dibidangnya atau tidak. Ini merupakan cambuk untuk para pendidik agar mampu menjawab tantangan kedepannya.

Juga sebagai “pembanding dan penyeimbang”, bagaimana mental akademisi, pengusaha, dan orang-orang yang masuk jajaran Kabinet Kerja Jokowi-JK. Apakah mampu bertahan hingga akhir dalam mengawal Indonesia, atau malah menjadi penghangat kursi pesakitan di pengadilan TIPIKOR. Semoga mereka tetap bersinergi dalam membangun Indonesia, bukan bersinergi untuk korupsi.

Begitu terdapat nama Susi dalam jajaran Kabinet Kerja. Sontak membuka lebar mata masyarakat. Di media sosial dengan cepat muncul foto Susi Pudjiastuti yang didampingkan dengan Atut Chosiyah. Pada gambar Ibu Susi ditulis “perokok, bertato, 2 kali kawin cerai, begajulan, tidaak berjilbab, tidak lulus SMA”. Sedangkan pada gambar Ibu Atut ditulis “tidak perokok, tidak bertato, tak kawin cerai, santun, berjilbab, pendidikan tinggi”. Dapat disimpulkan bahwa meski banyak kelebihan yang dimiliki Atut dan dianggap pantas sebagai pejabat, namun berakhir di kursi pesakitan. Semoga Ibu Susi tidak menyusul Ibu Atut untuk hal yang terakhir. Meski Jokowi-JK memiliki pertimbangan sendiri, namun masyarakat juga memiliki pertimbngan sendiri dalam berkomentar.

(Dikutip dari: www.pmii.or.id, Penulis: Munawwir Arafat)

Mahbub Djunaidi, Sang Pendekar Pena


Mahbub Djunaidi
PMII Wajo - Meskipun bukan kelahiran Solo, namun di Kota Bengawan inilah awal bakatnya di dunia tulis menulis mulai tampak. Ia memulai karier menulisnya ketika Ia duduk di bangku Sekolah, sebagai Redaktur majalah Sekolah Dasar di Solo.

Mahbub Junaidi, Sosok kelahiran Jakarta 27 Juli 1933 ini memang begitu gemar menulis, bahkan ia pernah berstatemen, “Saya akan menulis dan terus menulis hingga saya tak mampu lagi menulis.”

Ia adalah anak pertama dari 13 Saudara kandungnya. Ayahandanya  H. Djunaidi  adalah tokoh NU dan pernah jadi anggota DPR hasil Pemilu 1955. Keluarganya harus mengungsi ke Solo karena kondisi yang belum aman pada saat awal kemerdekaan. Di Solo, ia menempuh pendidikan di Madrasah Mambaul Ulum. Di tempat itu Mahbub diperkenalkan tulisan-tulisan Mark Twain, Karl May, Sutan Takdir Alisjahbana, dan lain-lain. “Masa-masa itulah yang sangat mempengaruhi perkembangan hidup saya,” cerita Mahbub.

Saat Belanda menduduki Solo tahun 1948, Mahbub Junaidi dan keluarganya kembali ke Jakarta.  Di Jakarta ia kemudian melanjutkan pendidikannya, masuk ke SMA Budi Utomo. Di sekolah barunya bakat menulis yang dimilikinya semakin terasah. Ia sering menulis sajak, cerpen, dan esei. Tulisan-tulisannya banyak dimuat majalah Siasat, Mimbar Indonesia, Kisah, Roman dan Star Weekly. Bakatnya ini terus berlanjut hingga ia menjadi mahasiswa, organisatoris, kolumnis, sastrawan, jurnalis, agawaman, poltisi dan sebagainya. Ya, selain sebagai seorang penulis, sosok yang satu ini juga dikenal sebagai tokoh yang multitalenta.

Dalam hal tulis-menulis Mahbub temasuk sangat piawai pada masanya, misalnya beliau yang menerjemahkan buku 100 tokoh yang berpengaruh di dunia karangan Michael H. Hart. Pun, dalam menulis kolom, Mahbub sangat terkenal dengan bahasa satire dan bahasanya yang humoris. Bahkan, Bung Karno samapai terkesan dengan tulisan beliau, karena Mahbub mengatakan Pancasila lebih agung dari Declaration of Independence, sehingga Bung Karno sempat mengundang Mahbub ke Istana Bogor, dari situlah Mahbub Junaidi menjadi sangat dekat dengan Bung Karno, dan Mahbub sangat kagum dengan “sang penyambung lidah rakyat tersebut.”

Ajaran Bung Karno, memang cukup mempengaruhi nasionalisme Mahbub. Pada sebuah pertemuan wartawan di Vietnam, Mahbub menggunakan bahasa Indonesia sebagai sarana komunikasi kendati ia cukup fasih berbahasa Inggris atau Prancis. Inilah sikap nasionalismenya. “Bahasa Prancis bukan bahasa elu, dan bahasa Inggris juga bukan bukan bahasa gua.

Salah satu ciri dari tulisan Mahbub adalah kepandaiannya dalam memasukkan unsur humor. Humor adalah cara dari Mahbub untuk mengajak seseorang masuk kedalam suatu masalah, karena salah satu kebiasaan dari orang Indonesia adalah suka tertawa, maka untuk mengkritik dengan cara yang enak adalah lewat humor. Sebagaimana yang pernah dikatakan Gus Dur, “dengan humor kita dapat sejenak melupakan kesulitan hidup.”

Sebagai kolumnis, tulisan Ketua Umum PB PMII Tiga Periode Ini kerap dimuat harian Kompas, Sinar Harapan, Pikiran Rakyat, Pelita, dan TEMPO. Kritik sosial yang tajam tanpa kehilangan humor adalah ciri khas tulisan Sang Pendekar Pena ini. Akibat tulisannya yang tajam, Ia pernah ditahan selama satu tahun di tahun 1978. Jeruji besi dan gelapnya penjara tak menghambat nalar menulisnya di dalam penjara ia menerjemahkan Road to Ramadhan, karya Heikal, dan menulis sebuah novel Maka Lakulah Sebuah Hotel. Jaya pada tahun 1975.

Ketua Umum PMII Tiga Periode
Dalam kariernya sebagai aktivis mahasiswa, Mahbub Junaidi bersama sahabat-sahabatnya membentuk Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) pada 17 April 1960, dan pada saat itu juga Mahbub Junaidi terilih sebagai ketua umum. Jabatannya sebagai Ketua Umum PP.PMII diembannya selama tiga periode, yaitu periode 1960–1961, hasil Musyawarah Mahasiswa Nahdliyin pada saat PMII pertama kali didirikan di Surabaya Jawa Timur. Periode 1961-1963, Hasil Kongres I PMII di Tawangmangu Jawa Barat. Dan Periode 1963-1967, hasil Kongres PMII II di Kaliurang Yogjakarta.

Pada masa kepemimpinan sahabat Mahbub Junaidi inilah PMII secara politis menjadi sangat populer di dunia kemahasiswaan dan kepemudaan, sampai pada periode pertama sahabat Zamroni. Pernah ketika itu, sebagai ketua umum PMII dirinya menunjukkan tajinya, saat HMI hendak dibubarkan oleh Bung Karno, dikarenakan tokoh-tokoh Masyumi terlibat dalam pemberontakan PRRI PERMESTA di Sumatera Barat, Mahbub yang menjabat sebagai ketua PMII langsung berangkat ke Istana Bogor untuk berdialog langsung dengan Bung Karno, dan pemintaan Mahbub sangat tegas, yaitu “HMI jangan dibubarkan.” Dan akhirnya tuntutannya itu terkabul.

Saat menjadi aktivis mahasiswa, Mahbub juga ahli dalam membuat lagu, mars PMII dan mars Gerakan Pemuda Ansor juga ciptaan dari Mahbub Junaidi. Dari kariernya sebagai ketua umum PB PMII, membuat kaiernya melesat ke Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Sebagai jurnalis, penulis dan sastrawan, Mahbub telah meraih prestasi yang sangat baik. Tulisannya sebagai Pemred Duta Masyarakat telah menunjukkan benang merah dari gagasan dan pikirannya mengenai berbagai masalah yang dihadapi bangsa kita. Perjalanan panjang dalm organisasi di lingkungan NU dapat menjadi bukti dari pengabdiannya kepada masyarakat.

Kiprahnya sebagai Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dapat dari petunjuk dari pengabdiannya dalam mengembangkan kehidupan pers nasional. Tulisannya sebagai sastrawan telah menununjukkan keragaman kemampuan yang dimilikinya dengan meraih penghargaan sastra tingkat nasional. Kolom “Asal Usul” yang dimuat secara tetap di tiap hari minggu harian Kompas selama jangka waktu yang cukup lama menunjukkan kemampuan Mahbub dalam menulis dan daya pikat tulisannya terhadap masyarakat. Gaya tulisannya sekarang banyak ditiru oleh penulis Indonesia.

Mahbub Djunaidi adalah tokoh nasional yang bersahaja, seorang jenius yang berkarakter mengamati perkembangan hidup melalui tulisan-tulisannya, penggerak organisasi dan seniman politik yang dimiliki oleh NU dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Sementara Mahbub Djunaidi meninggal dunia pada tahun 1995 di usia 62 tahun, usia yang masih cukup untuk beraktivitas dan berjuang. (Ajie Najmuddin/disarikan dari berbagai sumber) (dilansir nu.or.id Kamis, 18/4/2013)

(Dikutip dari: www.pmii.or.id)